Selasa, 28 April 2020
Day 3 -RINDU-
Rinduku telah sampai di depan jendela kamarmu
Barusan aku titip pada hujan dan angin malam
Esok pagi
Rindunya mungkin sudah dingin
Dan sebagian lagi sudah dimakan semut
Tapi ketahuilah
Segala bentuk hanya sementara
Tapi tidak dengan perbuatan
Ia pernah ada
Meski kenyataan;
Dengan kejam menafikannya.
Senin, 27 April 2020
Day 2 -HUJAN-
Cahayanya berjatuhan
Separuh tinggal di lelampu kota
Sisanya tinggal di ponselku;
Di percakapan percakapan lama kita,-
Minggu, 26 April 2020
Day 1 -EVOLUSI-
Kau rawat luka ku yang sedang meradang
Kau buatnya sembuh perlahan
Bangkitlah; bisikmu nyaring menelisik pangkal telingaku
Melangkahlah--lirih senyummu
Yang membuat jarum jam membeku
Dan waktu terpaku ketika senyum itu;
Membuat semuanya baik baik saja
Kau tanam anggrek dan tulip di sela senja
Disirami temaram gemintang yang selalu turun
Disetiap jeda kembara langkah kita
Aku terus berkutat dengan pikiranku sendiri
Dan mencoba merebahkan angan di bahu jalan;
Jalan dimana kamu sepatutnya datang
Jalan dimana kamu seharusnya pulang.
-26 April 2020.
LEKAS PULANG
Entah yang keberapa puluh kalinya foto ini aku tatap, pikiranku masih membekas disana dan tak mau pergi, detik per detiknya membawaku pada saat-saat kita saling menerka, saat kita terdiam, mencari kata untuk membuka pecakapan kita, tapi apa daya, kata-kataku gugur sebelum musimnya, dan mengendap pada kopi yang hendak di dinginkan waktu.
Tiba-tiba kamu pergi, memunguti binar cahaya dari lelampu kota, dan mengumpulkannya dimatamu, dan saat diam-diam aku memperhatikanmu, kamu memejamkankan mata--langkahku gelap seketika.
Entahlah, akhir-akhir ini dia selalu memenuhi ruang dalam pikiranku, mungkin ketika membuatnya menggunakan zat adiktif, sehingga awet dan betah berlama-lama bermain di kepalaku.
Aku belum bisa menafsirkan sepenuhnya apa yg aku rasakan, yang aku tau, ketika di dekatnya aku merasa aman, nyaman dan baik-baik saja.
Dan dibalik itu semua, aku selalu berdo'a pada tuhan, jika kali ini jatuh pada cinta yang benar. Maka, jatuhkan aku sejatuh-jatuhnya,-
muhammadas, Tasikmalaya 25 April 2020.
Sabtu, 18 Mei 2019
TANGISAN IBU PERTIWI
Langit-langit tesedu pilu
Memburaikan semua pelik dimatanya
Menangis tanpa kenal musim
Meringis tanpa kenal waktu
Gunung-gunung berteriak
Menyemburkan semua perih didadanya
Karena muak melihat kelakuan manusia
Yang kian hari kian serakah
Yang makin tinggi makin pongah
Laut-laut kian sebal
Memuntahkan semua pedih di perutnya
Sampai dimana kelak
Manusia sadar akan pentingnya menjaga lingkungan
Manusia paham akan dampak masal yang kelak terjadi
Sampai semuanya teramini
Pohon pohon dibakar meninggalkan sesak
Langit biru di asapi corong pabrik meninggalkan gelap
Tanah tanah di ambil intinya meninggalkan lubang kematian
Bencana ke bumi datang silih berganti
Banjir dimana-mana
Erupsi kapan saja
Tsunami datang tanpa aba-aba
Lalu, burung burung mengilang tinggalkan sarang
Angin berhembus membawa polusi polusi pabrik
Tanah tanah gersang menyisakan kekeringan
Anak kecil yang tak bersalah jadi tumbal keserakahan
Dan kini, merah putihku tinggalah warna
Burung garuda terbang entah kemana
Pancasila tak lagi bermakna
Indonesiaku tinggalah nama
Tasikmalaya, 18 mei 2019.
Memburaikan semua pelik dimatanya
Menangis tanpa kenal musim
Meringis tanpa kenal waktu
Gunung-gunung berteriak
Menyemburkan semua perih didadanya
Karena muak melihat kelakuan manusia
Yang kian hari kian serakah
Yang makin tinggi makin pongah
Laut-laut kian sebal
Memuntahkan semua pedih di perutnya
Sampai dimana kelak
Manusia sadar akan pentingnya menjaga lingkungan
Manusia paham akan dampak masal yang kelak terjadi
Sampai semuanya teramini
Pohon pohon dibakar meninggalkan sesak
Langit biru di asapi corong pabrik meninggalkan gelap
Tanah tanah di ambil intinya meninggalkan lubang kematian
Bencana ke bumi datang silih berganti
Banjir dimana-mana
Erupsi kapan saja
Tsunami datang tanpa aba-aba
Lalu, burung burung mengilang tinggalkan sarang
Angin berhembus membawa polusi polusi pabrik
Tanah tanah gersang menyisakan kekeringan
Anak kecil yang tak bersalah jadi tumbal keserakahan
Dan kini, merah putihku tinggalah warna
Burung garuda terbang entah kemana
Pancasila tak lagi bermakna
Indonesiaku tinggalah nama
Tasikmalaya, 18 mei 2019.
Selasa, 07 Mei 2019
SUARA LUKA
Semua jiwa dasarnya kebebasan
Dan kemerdekaan menjadi harga mati
Buat kaum-kaum yang tersingkirkan
Dari haus dan rakusnya kekuasaan
Jilat menjilat sudah menjadi tradisi
Tikam sana tikam sini seolah menjadi tontonan
Dan saling mangsa sudah menjadi hal yang biasa
Mau dibawa kemana moralmu?
Kebodohan ditutupi pencitraan
Kegagalan di framing kesuksesan
Janji-janji dikebiri, bualan mentah dimakan sendiri
Kepongahan kekuasaan membuat lupa diri berdiri
Aku ingin berorasi
Membawa semua keresahan dan penderitaan
Tapi, lagi dan lagi; langkahku patah di meja birokrasi
Suaraku dibungkam hukum yang masih bisa nego dan dibeli
Patutkah sila ke lima ada disana?
Bukankah itu acuan dari pendiri bangsa kita
Bahwa; keadilian sosial bagi seluruh rakyat indonesia hanya bualan belaka
Selebihnya hanya slogan dan pembodohan
Berapa lagi korban yang harus mati sia-sia demi tahta
Berapa lagi kekayaan bumi yang harus keluar dari pelosok-pelosok negri
Bukankah air, udara dan tanah adalah hal mutlak
Digunakan sebaik-baiknya buat kesejahtraan rakyat
Tapi malah menjadi tamu dirumah sendiri
Mereka-mereka hanya numpang berak
Lalu pulang, membawa kekayaan yang seharusnya menjadi penenang buat rakyat
Dan meninggalkan kerusakan yang harus ditanggung rakyat.
Muhammadas, Tasikmalaya 7 mei 2019
Rabu, 16 Januari 2019
REPUBLIK BONAFIDE
Negri yg tidak berapi-api dan tidak banyak berretorika.
Mending blak-blakan aja gitu apa susahnya, terutama buat para calon pemegang aspirasi rakyat nih, gausah lah hambur-hamburin uang buat kampanye, karena semakin banyak yg keluar semakin banyak pula kemungkinan buat korupsi.
Back to self quality aja gitu, gampangnya saya analogikan ke dokter oplas ya, berapapun harga yg ditawarkan dan meskipun prakteknya di papua misalkan, orang-orang akan rela pergi kesana dan rela mengeluarkan dana sebanyak apapun karena kualitasnya bagus.
Tanpa harus saya narasikan lagi saya yakin kalian sudah mafhum maksud saya.
Mending blak-blakan aja gitu apa susahnya, terutama buat para calon pemegang aspirasi rakyat nih, gausah lah hambur-hamburin uang buat kampanye, karena semakin banyak yg keluar semakin banyak pula kemungkinan buat korupsi.
Back to self quality aja gitu, gampangnya saya analogikan ke dokter oplas ya, berapapun harga yg ditawarkan dan meskipun prakteknya di papua misalkan, orang-orang akan rela pergi kesana dan rela mengeluarkan dana sebanyak apapun karena kualitasnya bagus.
Tanpa harus saya narasikan lagi saya yakin kalian sudah mafhum maksud saya.
Langganan:
Postingan (Atom)
