Selasa, 07 Mei 2019
SUARA LUKA
Semua jiwa dasarnya kebebasan
Dan kemerdekaan menjadi harga mati
Buat kaum-kaum yang tersingkirkan
Dari haus dan rakusnya kekuasaan
Jilat menjilat sudah menjadi tradisi
Tikam sana tikam sini seolah menjadi tontonan
Dan saling mangsa sudah menjadi hal yang biasa
Mau dibawa kemana moralmu?
Kebodohan ditutupi pencitraan
Kegagalan di framing kesuksesan
Janji-janji dikebiri, bualan mentah dimakan sendiri
Kepongahan kekuasaan membuat lupa diri berdiri
Aku ingin berorasi
Membawa semua keresahan dan penderitaan
Tapi, lagi dan lagi; langkahku patah di meja birokrasi
Suaraku dibungkam hukum yang masih bisa nego dan dibeli
Patutkah sila ke lima ada disana?
Bukankah itu acuan dari pendiri bangsa kita
Bahwa; keadilian sosial bagi seluruh rakyat indonesia hanya bualan belaka
Selebihnya hanya slogan dan pembodohan
Berapa lagi korban yang harus mati sia-sia demi tahta
Berapa lagi kekayaan bumi yang harus keluar dari pelosok-pelosok negri
Bukankah air, udara dan tanah adalah hal mutlak
Digunakan sebaik-baiknya buat kesejahtraan rakyat
Tapi malah menjadi tamu dirumah sendiri
Mereka-mereka hanya numpang berak
Lalu pulang, membawa kekayaan yang seharusnya menjadi penenang buat rakyat
Dan meninggalkan kerusakan yang harus ditanggung rakyat.
Muhammadas, Tasikmalaya 7 mei 2019
Rabu, 16 Januari 2019
REPUBLIK BONAFIDE
Negri yg tidak berapi-api dan tidak banyak berretorika.
Mending blak-blakan aja gitu apa susahnya, terutama buat para calon pemegang aspirasi rakyat nih, gausah lah hambur-hamburin uang buat kampanye, karena semakin banyak yg keluar semakin banyak pula kemungkinan buat korupsi.
Back to self quality aja gitu, gampangnya saya analogikan ke dokter oplas ya, berapapun harga yg ditawarkan dan meskipun prakteknya di papua misalkan, orang-orang akan rela pergi kesana dan rela mengeluarkan dana sebanyak apapun karena kualitasnya bagus.
Tanpa harus saya narasikan lagi saya yakin kalian sudah mafhum maksud saya.
Mending blak-blakan aja gitu apa susahnya, terutama buat para calon pemegang aspirasi rakyat nih, gausah lah hambur-hamburin uang buat kampanye, karena semakin banyak yg keluar semakin banyak pula kemungkinan buat korupsi.
Back to self quality aja gitu, gampangnya saya analogikan ke dokter oplas ya, berapapun harga yg ditawarkan dan meskipun prakteknya di papua misalkan, orang-orang akan rela pergi kesana dan rela mengeluarkan dana sebanyak apapun karena kualitasnya bagus.
Tanpa harus saya narasikan lagi saya yakin kalian sudah mafhum maksud saya.
Kamis, 06 Desember 2018
WAJAH-WAJAH LUKA
"Banyak yang kelaparan tuan, sebagian lagi sudah mati membusuk" teriakku di pojok istana.
Tapi, seolah berbicara didepan kaca, orasiku memantulkan wajah luka, memantulkan wajah duka.
Aku kembali mencari pintu yang lainnya, dengan membawa darah-darah budak pandita, yang dipaksa menjadi mesin pekerja tanpa menyertakan kesejahtraannya.
Tapi, langkahku kembali gugur di meja-meja birokrasi.
Cak munir dan wiji tukul tersenyum dari tepi surga, senyuman yang aku lebih bangga menyebutnya dengan perlawanan, senyuman yang aku lebih bangga menyebutnya dengan pembangkangan. Perlawanan terhadap ketidak adilan, pembangkangan terhadap ketimpangan-ketimpangan.
Sedangkan di sisi lain, penguasa tersenyum sambil pongah dengan kekuasaan. Senyuman yang memarjinalkan semangat pemuda-pemuda desa, senyuman yang membunuh paksa; langkah-langkah kaum akademisi muda kota.
Tasikmalaya-2018
Tapi, seolah berbicara didepan kaca, orasiku memantulkan wajah luka, memantulkan wajah duka.
Aku kembali mencari pintu yang lainnya, dengan membawa darah-darah budak pandita, yang dipaksa menjadi mesin pekerja tanpa menyertakan kesejahtraannya.
Tapi, langkahku kembali gugur di meja-meja birokrasi.
Cak munir dan wiji tukul tersenyum dari tepi surga, senyuman yang aku lebih bangga menyebutnya dengan perlawanan, senyuman yang aku lebih bangga menyebutnya dengan pembangkangan. Perlawanan terhadap ketidak adilan, pembangkangan terhadap ketimpangan-ketimpangan.
Sedangkan di sisi lain, penguasa tersenyum sambil pongah dengan kekuasaan. Senyuman yang memarjinalkan semangat pemuda-pemuda desa, senyuman yang membunuh paksa; langkah-langkah kaum akademisi muda kota.
Tasikmalaya-2018
Rabu, 14 November 2018
KULMINASI
Seiring derasnya waktu, kedekatan Gi dan Ara semakin berjarak, dan setiap parasaan itu tumbuh subur, Gi terpaksa harus membunuhnya hidup-hidup.
Bukan, bukan Gi egois, hanya tidak mau terlibat terlalu jauh, bahwa kenyataannya bukan tentang ego ingin memiliki. Lebih dari itu, ini tentang persahabatan mereka, dan juga ada hati orang lain yang mesti ia jaga.
Gi tidak mau menjadi korban keserakahan demi mementingkan ego sesaat, sejak awal Gi tau hati Ara bukan untuknya, tapi siapa yang bisa mengatur hati buat berkata iya atau tidak? Bukankan itu fitrah yang diberikan tuhan untuknya.
"Hati selalu lebih kuat dari apa yang kita bayangkan, teguhlah dengan keyakinanmu. Tapi percayalah, aku adalah aku yang dulu, yang selalu suka ketika mendengar cerita-ceritamu, yang menjadi pendengar meski tidak banyak yg aku lakukan untuk membuatmu tersenyum kembali, aku suka menjadi tempatmu mengadu, meski omonganku tidak bisa merubah kenyataan" kata Gi dalam pesan singkatnya sebelum ia melakukan perjalanan.
Keputusan getir ini harus Gi ambil, ia akan melakukan perjalanan yang ia sendiri belum tau kemana dan jangka waktu yang belum bisa ia tetapkan.
"Aku takut kita hanya terjebak euforia, terjebak keadaan dan waktu yang begitu sempurna, gerimis, hening, malam, dan hanya ada kita berdua, orang lain hanya cameo untuk mengukuhkan keberadaan kita. dan kamu pasti tau, kelahiran kita; mengundang seribu bahaya" Balas Ara.
Gi pergi meninggalkan pesan yang belum ia baca. Ia membiarkan hatinya memukuli dirinya sendiri dan menunggu mati.
Beberapa bulan berlalu tanpa ada kabar dari Gi, semuanya berubah begitu cepat, ternyata lelaki yang dulu Ara agung-agungkan tidak lebih dari seorang pecundang, dia pergi setelah menyusuri setiap jengkal waktu bersamanya, berlalu setelah merambati kenyataan demi kenyataan yang coba mereka lalui, dan menghilang setelah Ara berikan apa-apa yang ia punya.
Benar katamu waktu itu Gi, Bahwa sekuat apapun bertahan jika bukan porsinya pasti akan pudar, dan sekuat apapun mengelak jika sudah menjadi garis hidup untuk bersama pasti akan menyatu kembali.
Bahwa semesta punya caranya sendiri untuk aku lebih memahami kenyataan, bahwa hidup terlalu remeh untuk sekedar meratapi semua kekesalan.
"Aku hanya mempersilahkan keheningan menggurui kita, esok pagi atau lusa dengan hati yang bijaksana, kita bicara, semunya akan baik-baik saja. Percaya." Pesan dari Gi tiba-tiba muncul setelah beberapa bulan menghilang tanpa kabar, seolah ia tau apa yang sedang di alami Ara.
"Mengertilah, aku hanya ingin kita bahagia tanpa ada hati orang lain yang kita sakiti.
Kita sejalan tanpa ada langkah orang lain yang kita halangi.
Kita tersenyum tanpa ada tangis orang lain yang kita ciptakan." Balas Ara setelah sebelumnya mengambil nafas yang dalam, dan membuangnya perlahan, Ia memcoba menenangkan dirinya sendiri.
"Sebelum aku memputuskan untuk pergi, harapan itu sudah aku kubur hidup-hidup, Ra. Bahwa kita bukan apa-apa, dan gak akan menjadi apa-apa. Semoga kita lebih arif melihat semua permasalahan ini, bahwa; segala bentuk hanya sementara." Pungkas Gi setelah memutuskan untuk tidak akan kembali lagi ke kota asalnya, ia pergi menuju ruang dan waktu yang tak terbatas.
***
Dan pada akhirnya mereka menyerah oleh jalan yang tidak bisa lagi di rubah, bahwa mereka bukanlah apa-apa dibalik takdir yang telah di tetapkan, dan tidak bisa melawan kenyataan yang telah di gariskan tuhan.
muhammadas, Tasikmalaya 2018.
Bukan, bukan Gi egois, hanya tidak mau terlibat terlalu jauh, bahwa kenyataannya bukan tentang ego ingin memiliki. Lebih dari itu, ini tentang persahabatan mereka, dan juga ada hati orang lain yang mesti ia jaga.
Gi tidak mau menjadi korban keserakahan demi mementingkan ego sesaat, sejak awal Gi tau hati Ara bukan untuknya, tapi siapa yang bisa mengatur hati buat berkata iya atau tidak? Bukankan itu fitrah yang diberikan tuhan untuknya.
"Hati selalu lebih kuat dari apa yang kita bayangkan, teguhlah dengan keyakinanmu. Tapi percayalah, aku adalah aku yang dulu, yang selalu suka ketika mendengar cerita-ceritamu, yang menjadi pendengar meski tidak banyak yg aku lakukan untuk membuatmu tersenyum kembali, aku suka menjadi tempatmu mengadu, meski omonganku tidak bisa merubah kenyataan" kata Gi dalam pesan singkatnya sebelum ia melakukan perjalanan.
Keputusan getir ini harus Gi ambil, ia akan melakukan perjalanan yang ia sendiri belum tau kemana dan jangka waktu yang belum bisa ia tetapkan.
"Aku takut kita hanya terjebak euforia, terjebak keadaan dan waktu yang begitu sempurna, gerimis, hening, malam, dan hanya ada kita berdua, orang lain hanya cameo untuk mengukuhkan keberadaan kita. dan kamu pasti tau, kelahiran kita; mengundang seribu bahaya" Balas Ara.
Gi pergi meninggalkan pesan yang belum ia baca. Ia membiarkan hatinya memukuli dirinya sendiri dan menunggu mati.
Beberapa bulan berlalu tanpa ada kabar dari Gi, semuanya berubah begitu cepat, ternyata lelaki yang dulu Ara agung-agungkan tidak lebih dari seorang pecundang, dia pergi setelah menyusuri setiap jengkal waktu bersamanya, berlalu setelah merambati kenyataan demi kenyataan yang coba mereka lalui, dan menghilang setelah Ara berikan apa-apa yang ia punya.
Benar katamu waktu itu Gi, Bahwa sekuat apapun bertahan jika bukan porsinya pasti akan pudar, dan sekuat apapun mengelak jika sudah menjadi garis hidup untuk bersama pasti akan menyatu kembali.
Bahwa semesta punya caranya sendiri untuk aku lebih memahami kenyataan, bahwa hidup terlalu remeh untuk sekedar meratapi semua kekesalan.
"Aku hanya mempersilahkan keheningan menggurui kita, esok pagi atau lusa dengan hati yang bijaksana, kita bicara, semunya akan baik-baik saja. Percaya." Pesan dari Gi tiba-tiba muncul setelah beberapa bulan menghilang tanpa kabar, seolah ia tau apa yang sedang di alami Ara.
"Mengertilah, aku hanya ingin kita bahagia tanpa ada hati orang lain yang kita sakiti.
Kita sejalan tanpa ada langkah orang lain yang kita halangi.
Kita tersenyum tanpa ada tangis orang lain yang kita ciptakan." Balas Ara setelah sebelumnya mengambil nafas yang dalam, dan membuangnya perlahan, Ia memcoba menenangkan dirinya sendiri.
"Sebelum aku memputuskan untuk pergi, harapan itu sudah aku kubur hidup-hidup, Ra. Bahwa kita bukan apa-apa, dan gak akan menjadi apa-apa. Semoga kita lebih arif melihat semua permasalahan ini, bahwa; segala bentuk hanya sementara." Pungkas Gi setelah memutuskan untuk tidak akan kembali lagi ke kota asalnya, ia pergi menuju ruang dan waktu yang tak terbatas.
***
Dan pada akhirnya mereka menyerah oleh jalan yang tidak bisa lagi di rubah, bahwa mereka bukanlah apa-apa dibalik takdir yang telah di tetapkan, dan tidak bisa melawan kenyataan yang telah di gariskan tuhan.
muhammadas, Tasikmalaya 2018.
KLANDESTIN
Siang berlalu begitu saja, seolah cemburu dengan kemesraan kita, bagaimana tidak, disela jeda kembara, aku senandungkan nada-nada dari gesekkan dedaunan, semata untuk membuat instrumen di antara percakapan kita. Di sela langkah yang tertatih, aku susun puisi menjadi tanga-tangga kecil, semata untuk meminimalisir keluh lelahmu.
Dan petang sekejap dibungkam malam, aku disampingmu, tapi kamu hanya memeluk dirimu sendiri, sedangkan aku terbang, memunguti bias cahaya, menjadikannya sekepal keberanian.
Aku tau kamu masih terjaga, mencoba mencari potongan puzzle yang hilang, sedangkan aku lagi bermain-main dengan pikiranku sendiri, mencari celah untuk mengisi potongan puzzle yang hilang itu.
Lalu dimatamu, aku menemukan seseorang yang memelukmu erat, karena tak rela, kata-kataku membenturkan kepalanya ke langit, dan serpihannya jatuh sebagai hujan.
Kau rasakan itu? Itu kata-kataku yang berguguran, sebab awan tak mampu menampungnya.
muhammadas, Guntur 0411
Dan petang sekejap dibungkam malam, aku disampingmu, tapi kamu hanya memeluk dirimu sendiri, sedangkan aku terbang, memunguti bias cahaya, menjadikannya sekepal keberanian.
Aku tau kamu masih terjaga, mencoba mencari potongan puzzle yang hilang, sedangkan aku lagi bermain-main dengan pikiranku sendiri, mencari celah untuk mengisi potongan puzzle yang hilang itu.
Lalu dimatamu, aku menemukan seseorang yang memelukmu erat, karena tak rela, kata-kataku membenturkan kepalanya ke langit, dan serpihannya jatuh sebagai hujan.
Kau rasakan itu? Itu kata-kataku yang berguguran, sebab awan tak mampu menampungnya.
muhammadas, Guntur 0411
Selasa, 10 Juli 2018
PERTANYAAN KLISE
"Apa kontribusi anda buat negara?"
"Belum ada, tapi saya tidak memilih bungkam dan tidak bisa merasa baik-baik saja dengan keadaan negriku saat ini. Karena kejahatan ada bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena diamnya orang baik"
Kopi habis, argumen selesai. Dia hilang dibalik rutinitas kota dengan menggadaikan kemerdekaannya.
"Belum ada, tapi saya tidak memilih bungkam dan tidak bisa merasa baik-baik saja dengan keadaan negriku saat ini. Karena kejahatan ada bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena diamnya orang baik"
Kopi habis, argumen selesai. Dia hilang dibalik rutinitas kota dengan menggadaikan kemerdekaannya.
Rabu, 30 Mei 2018
Sepasang Kaku Tanpa Ragu
Awan hitam menggantung tebal di langit-langit sore, terbentang mengitari seluruh ufuk, matahari yang tadi bersinar gagah kini bersembunyi dibalik mantel tebal, angin berkesiur kencang menampar telinga, suaranya seperti kelepak sayap elang yang terbang mengitari bumantara, sebentar lagi langit yang tadi cerah akan dipeluk hujan.
Hujan reda gerimis sisa, tapi tidak melunturkan secercah tekad kami untuk melihat keindahan alam raya.
Kami berdiri berdampingan, bersama mentatap ke ujung puncak, aku mengunci tatapan pada mata sayu yang selalu bersinar itu. memastikan tidak ada keraguan diantara kami.
Berjalan bersama kepulan air yang bergumul dengan angin yang mencoba menerpa, dingin habis hujan sore itu menyelusup tubuh, harum dari aroma tanah setelah hujan tercium khas, wanginya memutar terbang terbawa angin mengitari udara. tanaman perdu yang menari terus menyemangati langkah demi langkah, gema dari angin yang berhembus lirih memberikan semangat untuk terus berjalan.
Detik itu aku melihat kenyataan dimatamu, di dalam mata sayu yang di payungi alis alami yang tidak akan purba oleh waktu, mata itu menyadarkanku bahwa hidup akan baik-baik saja selama aku berjalan bersamamu.
Jemari yang aku idamkan sejak lama kini mendekap erat, dekapan yang disemogakan tanpa memperdulikan waktu yang kian tua.
Lagu lirih mengiringi langkah demi langkah, menemani untuk menggapai titik itu, namun waktu seakan terlalu cepat untuk bisa kita nikmati. Atau, terlalu sungkan untuk kita lewatkan, waktu dari sekian waktu yang sejak lama aku idamkan. waktu yang aku syukuri adanya. setidaknya untuk saat ini kita nikmati bersama.
Rebahkan lelah setelah sampai puncak.
Gerimis masih rinai puitik membelai kaki langit, malam turun seperti biasanya, namun di sebelah barat masih terlihat semburat kuning yang masih menyala, dia selalu punya cara termanis untuk berpamitan, suguhan semesta untuk kita berdua sore menuju malam; Kala itu.
Hujan reda gerimis sisa, tapi tidak melunturkan secercah tekad kami untuk melihat keindahan alam raya.
Kami berdiri berdampingan, bersama mentatap ke ujung puncak, aku mengunci tatapan pada mata sayu yang selalu bersinar itu. memastikan tidak ada keraguan diantara kami.
Berjalan bersama kepulan air yang bergumul dengan angin yang mencoba menerpa, dingin habis hujan sore itu menyelusup tubuh, harum dari aroma tanah setelah hujan tercium khas, wanginya memutar terbang terbawa angin mengitari udara. tanaman perdu yang menari terus menyemangati langkah demi langkah, gema dari angin yang berhembus lirih memberikan semangat untuk terus berjalan.
Detik itu aku melihat kenyataan dimatamu, di dalam mata sayu yang di payungi alis alami yang tidak akan purba oleh waktu, mata itu menyadarkanku bahwa hidup akan baik-baik saja selama aku berjalan bersamamu.
Jemari yang aku idamkan sejak lama kini mendekap erat, dekapan yang disemogakan tanpa memperdulikan waktu yang kian tua.
Lagu lirih mengiringi langkah demi langkah, menemani untuk menggapai titik itu, namun waktu seakan terlalu cepat untuk bisa kita nikmati. Atau, terlalu sungkan untuk kita lewatkan, waktu dari sekian waktu yang sejak lama aku idamkan. waktu yang aku syukuri adanya. setidaknya untuk saat ini kita nikmati bersama.
Rebahkan lelah setelah sampai puncak.
Gerimis masih rinai puitik membelai kaki langit, malam turun seperti biasanya, namun di sebelah barat masih terlihat semburat kuning yang masih menyala, dia selalu punya cara termanis untuk berpamitan, suguhan semesta untuk kita berdua sore menuju malam; Kala itu.
Langganan:
Postingan (Atom)